UINSSC Kelola 27,85 Ton Sampah Organik Melalui Sistem 3R Terpadu

UINSSC Kelola 27,85 Ton Sampah Organik Melalui Sistem 3R Terpadu

Cirebon 22 Juli 2026 — Sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik UINSSC, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mencatat total volume sampah organik sebanyak 27,85 ton sepanjang tahun ini. Angka ini turun dari 28,397 ton pada tahun sebelumnya. Data ini menjadi bagian dari pemenuhan indikator 3.5 UI GreenMetric, yaitu total volume sampah organik yang dihasilkan kampus setiap tahun.

Dari total tersebut, sampah organik terdiri atas 14,20 ton sampah makanan dan 9,00 ton daun kering. Selain itu, terdapat 4,65 ton sampah organik lain seperti ampas kopi, bunga layu, dan cangkang telur.

Perhitungan Berbasis Empat Area Kampus

Angka ini diperoleh melalui estimasi timbulan sampah dari empat area kampus. Area tersebut meliputi Area Rektorat, yang mencakup Gedung Rektorat dan Fakultas Ushuluddin (FUA). Selain itu, ada Area Ma’had yang terdiri atas Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) serta asrama Ma’had. Sementara itu, Area ICC meliputi Perpustakaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), serta Fakultas Syariah. Terakhir, Area Cyber mencakup Gedung Cyber UINSSC serta Laboratorium Pusat Saladara.

Perhitungan tahunan menggunakan basis 200 hari kerja efektif dalam satu tahun akademik. Berkurangnya jumlah hari kerja efektif ini merupakan dampak dari kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap hari Jumat. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi kampus untuk mengembangkan lingkungan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Tiga Jalur Pengelolaan: Reduce, Reuse, dan Treatment

Pada tahap reduce, kampus berhasil menekan 1,95 ton sampah organik. Pengurangan ini dicapai melalui program edukasi pengurangan sisa makanan di kantin, kampanye kesadaran mengambil porsi makan secukupnya, serta upaya mengurangi sisa makanan pada acara-acara kampus.

Baca Juga:  UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Alokasikan Rata-Rata 22,44% Anggaran untuk Program Keberlanjutan Kampus

Selanjutnya, pada tahap reuse, sebanyak 2,45 ton sampah organik dimanfaatkan kembali. Daun kering, misalnya, digunakan sebagai mulsa untuk menjaga kelembapan tanah sekaligus media tanam di taman kampus. Di sisi lain, sejumlah residu organik lain dimanfaatkan untuk kegiatan penghijauan dan perawatan lingkungan kampus.

Ketiga tahap ini turut menjadi inti dari strategi pengelolaan sampah organik UINSSC yang dijalankan sepanjang tahun ini.

Mayoritas Sampah Diolah Melalui Downcycling dan Upcycling

Porsi terbesar pengelolaan sampah organik, yaitu 17,70 ton, diproses melalui inisiatif downcycling. Proses ini mencakup pengomposan menggunakan komposter dan lubang resapan biopori. Selain itu, prosesnya juga meliputi budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF), produksi eco-enzyme, hingga pembuatan pupuk organik cair.

Sementara itu, sebanyak 6,75 ton sampah organik diolah melalui kegiatan upcycling menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Produk tersebut antara lain kompos premium dan media tanam. Di samping itu, maggot BSF juga bernilai ekonomis sebagai pakan ikan dan unggas, serta menjadi bahan organik pilihan untuk kegiatan edukasi dan pengembangan kampus hijau.

Dijalankan Bersama UKM EcoMove

Seluruh inisiatif ini dijalankan secara kolaboratif oleh unit sanitasi kampus, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Kolaborasi ini terwujud melalui Unit Kegiatan Mahasiswa EcoMove (UKM EcoMove), yang mengelola program Eco Campus dan Green Innovation.

Melalui sistem pengelolaan sampah organik UINSSC yang terpadu ini, kampus terus berupaya menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya organik dapat dioptimalkan, sekaligus mendukung pengembangan kampus berkelanjutan sesuai indikator Waste (WS) UI GreenMetric.