Sistem Pengolahan Sampah Organik UINSSC: dari Tong Terpilah hingga Kandang Maggot

Sistem Pengolahan Sampah Organik UINSSC: dari Tong Terpilah hingga Kandang Maggot

Cirebon, 21 Juli 2026 —UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) menerapkan sistem Organic Waste Treatment (WS.3) sebagai bagian dari komitmen pengelolaan sampah berkelanjutan menuju kampus hijau. Data ini menjadi bagian dari pemenuhan indikator 3.8 UI GreenMetric, yang menilai keseluruhan sistem pengolahan sampah organik di kampus. Penilaian ini mencakup infrastruktur fisik, proses, hingga keterlibatan sivitas akademika.

Sistem ini mencakup tong sampah terpilah dan lubang biopori sebagai infrastruktur dasar. Mahasiswa juga dilibatkan lewat program KKN, yang mengubah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomis di berbagai desa binaan.

Pemilahan di Sumber Jadi Titik Awal

Proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah organik dan non-organik langsung di sumbernya. Kampus menyediakan tong sampah terpilah di berbagai titik strategis, lengkap dengan poster edukasi yang mengarahkan warga kampus memilah sampah dengan benar sejak awal.

Sampah organik yang terkumpul berasal dari beragam sumber, mulai dari sisa makanan kantin hingga daun dan ranting dari perawatan taman. Bahan biodegradable lain seperti ampas kopi dan cangkang telur juga masuk kategori ini. Sampah tersebut kemudian diproses dengan metode ramah lingkungan, meliputi composting, sistem resapan biopori, serta budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF).

96,6 Persen Sampah Organik Berhasil Diolah Tahun Ini

Pada tahun pelaporan ini, UINSSC berhasil mengolah 26,9 ton sampah organik, atau setara 96,6 persen dari total sampah yang dihasilkan kampus. Capaian ini terbagi ke dalam empat program: reduce (1,95 ton), reuse (2,45 ton), downcycling (17,70 ton), dan upcycling (6,75 ton).

Program reduce dijalankan lewat kampanye “Ambil Secukupnya” di kantin, donasi makanan layak konsumsi, serta promosi wadah makan dan minum yang dapat dipakai ulang. Sementara itu, program reuse memanfaatkan daun kering sebagai mulsa dan media tanam. Daun kering ini juga menjadi bahan baku produk ecoprint, sedangkan cangkang rajungan dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Baca Juga:  Program KKN UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Hadirkan Program Keberlanjutan di Ratusan Desa dan Komunitas

Dari Kompos hingga Lilin Aromaterapi

Pada tahap downcycling, sampah organik diubah menjadi kompos padat, pupuk organik cair, dan eco-enzyme. Hal tersebut menggunakan mesin pencacah, komposter, dan lubang biopori. Sementara pada tahap upcycling, kehadiran BSF Maggot House menjadi inovasi utama. Mengubah sisa makanan menjadi biomassa maggot berprotein tinggi untuk pakan ikan dan unggas. Residunya kemudian diolah menjadi pupuk.

Selain maggot, upcycling juga menghasilkan produk kreatif lain, seperti lilin aromaterapi dari minyak jelantah dan kulit jeruk, briket eceng gondok dari sampah daun, hingga berbagai produk edukatif berbasis limbah kampus.

Diperkuat Program KKN Mahasiswa

Sebagian besar inovasi upcycling dan downcycling ini lahir dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa di berbagai desa binaan. Kegiatannya mencakup pelatihan pembuatan pupuk hayati, workshop eco-enzyme, hingga pelatihan biopori untuk mengatasi banjir. Praktik ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik di UINSSC tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, tetapi juga ditularkan ke masyarakat sekitar.

Infrastruktur dan Kolaborasi Jadi Fondasi Sistem

Seluruh sistem ini didukung infrastruktur. Berupa mesin pencacah sampah organik, komposter, BSF Maggot House, dan lubang resapan biopori. Kegiatannya dijalankan secara kolaboratif oleh unit kebersihan kampus, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa EcoMove (UKM EcoMove).

Melalui penguatan infrastruktur, inovasi teknologi, dan partisipasi aktif sivitas akademika, UINSSC berhasil menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Capaian ini sekaligus mendukung indikator Waste (WS) UI GreenMetric.