Begini Alur Pengolahan 27,85 Ton Sampah Organik UINSSC pada 2026, dari Pencacahan hingga Maggot House

Begini Alur Pengolahan 27,85 Ton Sampah Organik UINSSC pada 2026, dari Pencacahan hingga Maggot House

Cirebon, 21 Juli 2026 — UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) berhasil menerapkan sistem pengelolaan sampah organik terpadu. Sistem ini berbasis prinsip 3R. Prinsip ini meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle. Penerapan ini berlangsung sepanjang 2026. Data ini menjadi bagian dari indikator 3.7 UI GreenMetric. Indikator ini mengukur total volume sampah organik yang diolah kampus.

Berbeda dari data pada indikator 3.5 yang sebelumnya memaparkan total volume dan kategori sampah organik pada 2026, artikel ini menjelaskan bagaimana 27,85 ton sampah tersebut benar-benar diolah—mulai dari tahap pencacahan di sumber hingga menjadi produk bernilai tambah seperti kompos, pupuk cair, dan biomassa maggot.

Tahap Reduce dan Reuse: Sebelum Sampah Masuk ke Proses Olahan

Dari total 27,85 ton sampah organik, kampus lebih dulu menekan 1,95 ton. Penekanan ini melalui program edukasi. Kampus juga menjalankan kampanye pengurangan sampah. Program ini mencakup kampanye porsi makan yang sesuai di kantin. Selain itu, kampus meminimalkan sisa makanan pada acara kampus. Pemanfaatan bahan organik dari sumbernya turut dioptimalkan.

Sebanyak 2,45 ton sampah organik lainnya dimanfaatkan kembali. Proses ini disebut reuse. Pemanfaatan tersebut terutama lewat penggunaan daun kering sebagai mulsa. Daun kering juga digunakan sebagai media tanam. Langkah ini mendukung penataan lanskap kampus.

Pencacahan Jadi Tahap Awal Sebelum Diolah

Sebanyak 17,70 ton sampah organik diproses melalui downcycling pada 2026. Sampah ini tidak langsung dikomposkan. Material ini lebih dulu dikumpulkan lalu dicacah menggunakan mesin khusus. Tujuannya untuk memperkecil ukuran material. Langkah ini juga mempercepat penguraian.

Sampah yang telah dicacah barulah diolah menggunakan komposter. Pengolahan lain memanfaatkan lubang resapan biopori. Kedua proses ini menghasilkan kompos, eco-enzyme, dan pupuk organik cair. Ketiga hasil olahan ini dimanfaatkan kembali untuk penataan lanskap dan ruang terbuka hijau. Pemanfaatan lainnya mendukung kegiatan edukasi hingga pengabdian masyarakat.

Baca Juga:  Rasio Kendaraan Tanpa Emisi terhadap Populasi Kampus UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

BSF Maggot House: Detail Proses yang Belum Terungkap Sebelumnya

Sebanyak 6,75 ton sampah organik diproses melalui upcycling. Proses ini berlangsung pada 2026. Proses ini menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi. Salah satu contohnya adalah BSF Maggot House. Ini adalah rumah budi daya maggot Black Soldier Fly. Inovasi ini baru diperkenalkan pada tahun tersebut.

Mekanismenya cukup unik. Sampah organik diubah menjadi biomassa maggot. Sampah ini khususnya berupa sisa makanan. Biomassa maggot dimanfaatkan sebagai pakan. Pakan ini bernilai ekonomis untuk ikan dan unggas. Sementara itu, residunya disebut frass. Frass ini diolah menjadi pupuk organik.

Infrastruktur dan Kolaborasi di Balik Sistem Ini

Seluruh proses ini didukung infrastruktur khusus. Infrastruktur ini meliputi mesin pencacah sampah organik. Infrastruktur ini juga mencakup komposter dan BSF Maggot House. Selain itu, tersedia lubang resapan biopori. Kegiatannya dijalankan secara kolaboratif. Kolaborasi ini melibatkan unit kebersihan kampus. Dosen dan tenaga kependidikan turut terlibat. Mahasiswa juga terlibat melalui UKM EcoMove. UKM ini berada di bawah program Eco Campus. Program ini juga mencakup Green Innovation.

Dengan terungkapnya alur pengolahan ini, publik dapat melihat gambaran utuh. Capaian 27,85 ton sampah organik bukan sekadar angka. Capaian ini merupakan hasil dari rangkaian proses teknis. Proses ini saling terhubung satu sama lain. Prosesnya dimulai dari pencacahan di sumber. Prosesnya berakhir menjadi produk bernilai ekonomis. Produk ini juga bernilai bagi lingkungan.