Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM


Cirebon, 21 Juli 2026 —UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) mencatat total volume sampah organik. Volumenya sebanyak 28,397 ton sepanjang 2025. Data ini menjadi bagian dari pemenuhan indikator 3.6 UI GreenMetric. Indikator ini mengukur total volume sampah organik yang dihasilkan kampus. Pengukuran ini dilakukan pada tahun sebelumnya. Data ini menjadi baseline sebelum kampus memperluas sistem pengelolaannya pada 2026.
Angka 28,397 ton pada 2025 terdiri atas beberapa komponen. Komponen tersebut meliputi 14,76 ton sampah makanan. Komponen lain berupa 9,20 ton daun kering. Selain itu, terdapat 4,437 ton sampah organik lain. Contohnya seperti ampas kopi, bunga layu, dan cangkang telur. Jumlah tersebut lebih tinggi 0,547 ton. Perbandingannya dengan capaian 27,85 ton yang berhasil ditekan kampus pada 2026.
Estimasi volume sampah pada 2025 ini diperoleh dari lima area utama kampus, yaitu Area Rektorat, Area Ma’had, Area ICC, Area Cyber, dan Laboratorium Pusat Saladara. Perhitungan ini didasarkan pada aktivitas akademik dan non-akademik yang berlangsung sepanjang tahun akademik 2025.
Pada 2025, UINSSC sebenarnya sudah mulai menerapkan pengelolaan sampah organik berdasarkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Melalui program edukasi pengurangan sisa makanan di kantin, kampanye porsi makan yang sesuai, serta optimalisasi pemanfaatan bahan organik dari sumbernya, kampus berhasil menekan 1,95 ton sampah organik pada tahun tersebut.
Selain itu, 2,45 ton sampah organik dimanfaatkan kembali pada 2025, terutama melalui penggunaan daun kering sebagai mulsa dan media tanam untuk taman kampus. Menariknya, jumlah reduce dan reuse ini bertahan sama besar pada 2026, menandakan bahwa dua langkah tersebut sudah stabil sejak 2025.
Porsi terbesar pengelolaan sampah organik pada 2025, yaitu 17,70 ton, diproses melalui downcycling, dan 6,75 ton lainnya melalui upcycling. Kedua angka ini bertahan sama besar hingga 2026, tetapi metode di baliknya berbeda jauh.
Pada 2025, downcycling hanya mengandalkan unit komposting sederhana dan lubang resapan biopori, tanpa dukungan teknologi tambahan. Barulah pada 2026, proses yang sama diperkuat dengan budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF), produksi eco-enzyme, dan pembuatan pupuk organik cair, sehingga kapasitas dan variasi hasil olahannya menjadi jauh lebih beragam.
Titik pembeda paling mencolok pada 2025 adalah belum diterapkannya budi daya maggot BSF. Pengelolaan sampah organik saat itu masih bertumpu sepenuhnya pada pengomposan konvensional dengan fasilitas yang relatif sederhana dan kapasitas pengolahan terbatas.
Kondisi pada 2025 inilah yang mendasari perluasan program setahun kemudian. Pada 2026, UINSSC memperkenalkan budi daya maggot BSF, meningkatkan fasilitas komposting, serta memperkuat keterlibatan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa EcoMove (UKM EcoMove) dalam menjalankan program Eco Campus dan Green Innovation.
Dengan kata lain, penurunan volume sampah organik dari 28,397 ton pada 2025 menjadi 27,85 ton pada 2026 bukan sekadar soal jumlah yang berkurang, melainkan hasil dari transisi metode pengolahan—dari sistem sederhana pada 2025 menuju sistem yang lebih terintegrasi dan bernilai tambah pada 2026.